Langgar Larangan Judi Poker Online Sebabkan Gangguan Jiwa

Langgar Larangan Judi Poker Online Sebabkan Gangguan Jiwa – Terdapat beberapa faktor yang dapat menyebabkan seseorang mengalami gangguan jiwa, diantaranya ialah faktor biologis dan psikologis. Faktor biologis ialah faktor keturunan (gen). Seorang anak yang dilahirkan dengan latar belakang orang tua atau keluarga yang memiliki riwayat masalah kejiwaan, memiliki risiko lebih besar akan mengalami penyakit yang sama. 

Faktor selanjutnya yang dapat menyebabkan seseorang mengalami gangguan jiwa ialah faktor psikologis. Faktor ini lebih banyak ditemukan sebagai penyebab paling banyak yang menyebabkan seseorang menjadi bersikap di luar kendali. Depresi, trauma, pelecehan, kesedihan mendalam sering menjadi pemicu seseorang untuk mengalami gangguan jiwa. Bahkan melakukan pelanggaran larangan judi juga masuk dalam faktor ini.

Jika seseorang telah memutuskan untuk masuk ke ranah perjudian bandarqq, maka bersiaplah menghadapi bahaya. Ancaman kehidupan yang normal akan menjadi taruhannya, ketika tidak ada lagi harta yang dapat dijadikan alat taruhan. Larangan judi Poker online sudah sangat keras memperingati agar tidak melakukan judi. Denda dan kurungan badan di dunia dan ketika meninggal bersiaplah masuk neraka.

Penjudi memiliki beberapa tipe, dari yang awal hingga mereka yang disebut sebagai penjudi patalogis. Orang dengan kategori awal, ialah mereka yang hanya iseng dan sekadar ikut-ikutan. Tidak memiliki kecenderungan untuk terus bermain. Biasanya di tahap awal ini tujuannya ialah mencari kesenangan semata. Jika menang berarti sebuah keberuntungan dan kalah tidak akan menjadi beban.

Tipe selanjutnya ialah penjudi profesional. Sesuai dengan namanya mereka ialah pemain yang memang memiliki keahlian dan modal besar. Biasanya orang kelas atas dan memiliki kedudukan berpengaruh yang berada di tipe ini. Mereka lebih melihat judi sebagai ladang bisnis. Uang dan kekuasaan dimanfaatkan untuk ajang meramaikan pasar taruhan. Larangan judi Poker online pun tidak menjadi permasalahan karena mereka memiliki kekuasaan.

Tipe penjudi yang paling berbahaya ialah patalogis. Ini sudah memasuki masalah kejiwaan. Biasanya penjudi ini diawali dari penasaran yang mengakibatkan ketagihan yang tidak dapat dikendalikan. Seluruh harta yang dimiliki dapat ditaruhkan meski kekalahan demi kekalahan dialami hingga tidak ada lagi harta yang tersisa. Di kondisi inilah penjudi mulai mengalami perubahan kepribadian, emosi, pola pikir, dan cara berinteraksi dengan orang lain.

Adapun penjudi yang telah memasuki tipe patalogis (pathologic gambling) jika mengalami beberapa tanda ketika melanggar larangan judi Poker online. Terdapat kecemasan ketika ingin berhenti dari taruhan, sementara modal habis dan tidak pernah menang. Judi bukan lagi menjadi permainan iseng yang menyenangkan, tapi telah menjadi seluruh hidupnya karena waktu dan uang dihabiskan di sana. Akibatnya tentu harta habis dan karir hancur.

Kekalahan demi kekalahan hingga kerugian yang mencapai ratusan juta atau bahkan lebih, sebenarnya disadari oleh penjudi patalogis. Namun tetap saja dia tidak bisa mengendalikan diri untuk terus berjudi. Taruhan dan hasilnya kekalahan. Ketika tidak ada lagi harta yang dapat digunakan untuk taruhan, tipe penjudi ini akan berbuat tindakan kriminal yang merugikan pihak lain.

Demi mendapatkan modal untuk kembali ke meja judi, penjudi patalogis semakin tidak peduli akan adanya larangan judi Poker online. Dipikirannya hanya ada taruhan dan hasratnya ingin segera kembali untuk bermain. Penjudi yang sudah kecanduan ini akan melakukan tindakan kriminal dengan mencuri, menipu, bahkan membunuh. Siapa korbannya? Tentu orang di sekitarnya, bisa jadi keluarga, teman, atau sesama penjudi.

Telah banyak kasus seseorang dengan tingakat kecanduan judi menjadi seorang kriminal. Ganguan jiwa yang dialami penjudi patalogis memang tidak seperti orang dengan sakit jiwa lainnya. Mereka nampak biasa saja, tapi mulai mengurangi interaksi dengan orang sekitar. Sekalinya berinteraksi tujuannya untuk pinjam uang dengan berbagai alasan. Dia sealu bersembunyi dan tidak menunjukan identitasnya sebagai penjudi.

Berbohong dan mengiba adalah jurus andalannya untuk mendapatkan sejumlah uang dari orang yang akan ditipunya. Dia tidak akan pernah berhenti untuk melakukan aksi ini, meski seluruh teman dan keluarganya akan menjadi korban. Bahkan ketika di titik terakhir, dia menjadi pelaku sekaligus korban akibat candunya akan judi. Ada penjudi yang baru tersadar ketika semuanya telah habis, tapi ada pula yang tidak sadar hingga ajal.

Pasar taruhan telah menjadi ladang bisnis judi yang menjadi pemicu dari adanya penjudi patalogis. Pelaku bisnis meraup untung yang tidak ada matinya. Namun penjudi akan terus mengalami kerugian yang mengerikan. Bukan hanya harta, keluarga, dan teman yang menjadi korban. Diri sendiri akan mengalami kerusakan yang fatal. Harta habis, utang menumpuk, rentenir mengejar, dan tidak ada lagi kepercayaan.

Jangan pernah mau mencoba sesuatu yang sudah jelas dilarang. Larangan judi Poker online dibuat tentunya merupakan bentuk perhatian yang besar. Adanya larangan bukan untuk dilanggar, melainkan dipatuhi karena selalu ada bahaya yang mengancam ketika berani melewati batasan yang telah ditetapkan. Berhenti berjudi sebelum mengalami gangguan jiwa dan jangan mencoba jika tidak ingin menjadi orang gila.

Pengaruh Larangan Judi Online Terhadap Keharmonisan Rumah Tangga

Pengaruh Larangan Judi Online Terhadap Keharmonisan Rumah Tangga – Seseorang yang berjudi bisa saja awalnya hanya ikut-ikutan dan berdasarkan coba-coba. Siapa sangka ini justru menjadi langkah awal yang membawanya untuk terjerumus lebih jauh ke dalam lingkaran terlarang itu. Seperti pada hasil penelitain Mark Griffiths – Psikolog Nottingham Trent University – pada Prilaku Kecanduan Judi, penjudi memiliki banyak motivasi atas kebiasaan berjudi.

Griffiths melalukan survey terhadap 5.500 penjudi dan dari penelitiannya itu ditemukan alasan yang mengejutkan kenapa penjudi tidak dapat berhenti dan ingin terus menaruhkan uangnya untuk mesin atau kartu judi, yaitu memuaskan hasrat kesenangan layaknya ‘membeli hiburan’. Alasan utama mereka bermain tentunya mendapatkan keuntungan dengan jumlah uang yang banyak.

Namun ‘kesenangan’ seperti ini tentunya memberikan pengaruh larangan judi online terhadap keharmonisan rumah tangga. Mungkin sudah bosan rasanya mendengar gaungan judi itu di larang. Negara dan agama selalu memberikan sosialisasi, tapi penjudi dominoqq meremehkan hal itu. Mereka hanya peduli unuk memuaskan hasrat terlarang. Berharap mendapatkan uang, padahal selalu kalah dan jika menang semakin ingin main lagi.

Mirisnya kalangan menengah ke bawah dengan ekonomi rendah atau pas-pasan banyak menjadi bagian dari penjudi. Mereka berharap lewat permainan yang menaruhkan sejumlah uang ini, perekonomian keluarga menjadi lebih baik. Tidak peru kerja terlalu keras, cukup melakukan taruhan untuk menjadi kaya. Harapan-harapan seperti inilah yang justru membuat keadaan keuangan semakin terpuruk parah hingga hilangnya keharmonisan di dalam rumah.

Larangan judi online juga nampaknya tidak berpengaruh kepada mereka yang berkantong tebal dengan hobi berjudi. Mereka bahkan ada yang menjadi mafia judi yang dapat mempermainkan skor pada suatu pertandingan yang sering dijadikan taruhan. Dunia olah raga juga menjadi bagian dari pasar taruhan yang peminatnya banyak. Hasil dari pertandingan menjadi taruhan.

Padahal penjudi yang sudah masuk di tahap candu sudah sering kalah dan nyaris tidak pernah menang, mereka tahu ada permainan orang dalam yang melibatkan bandar, bahkan ada mafia yang turut andil melakukan kecurangan. Namanya saja sudah ‘candu’, penjudi tidak lagi peduli meski kalah dan ditipu. Ada rasa yang membawa mereka terus kembali. Motonya ‘tidak ada yang suka kekalahan’ dan ini menambahkan hasrat untuk terus bermain.

Ketika modal habis dan tekor dalam perjudian, mereka berubah menjadi sosok yang emosional dan pemaksa. Sasaran utama bagi pelaku penjudi yang telah berkeluarga ialah istri dan selanjutnya anak mereka sendiri. Larangan judi online membuat mereka semakin menjadi untuk lebih brutal. Tabungan, cincin pernikahan, BPKB kendaraan, bahkan sertifikat rumah akan habis tergadai.

Parahnya mereka sanggup menggadaikan anak untuk melancarkan perjudian. Ini pernah terjadi di Pontianak, Kalimantan Barat. Tahun 2018 silam sepasang suami istri diamankan polisi akibat menggadaikan anak mereka yang masih berusia 4 bulan kepada bandar judi, karena tidak dapat memulangkan uang modal judi sebesar 1.4 juta rupiah. Lagi-lagi motif tersangka ialah masalah perekonomian dan terlilit utang.

Fakta ini sebenarnya kuat untuk dijadikan alasan kenapa adanya larangan judi.online Perekonomian yang buruk akan semakin terpuruk karena taruhan dan mengakibatkan hidup semakin terlilit utang. Tabungan habis, tempat tinggal disita, anak tergadai, dan mendekam dipenjara. Padahal negara kita ini negara hukum, memiliki aturan tertulis yang sudah sangat jelas dan cukup membuat ‘ngeri’.

Penjudi memang tidak ada takutnya. Dipikarannya hanya ada taruhan, berharap menang, ternyata kalah, lalu taruhan lagi, begitu seterusnya membentuk lingkaran setan. Negara sudah memiliki aturan tertulis pada KUHP tentang perjudian. Orang yang terlibat langsung, yang mengajak, dan yang menyediakan perjudian akan terjerat hukum dan minimal kurungan penjara 10 tahun, serta denda 25 juta rupiah.

Bagi penjudi yang berkantong tebal juga jangan sampai jumawa dan tidak peduli akan larangan judi online. Uang dan kekuasaan memang dapat mengatur segala hal, tapi sifatnya tidak kekal. Semuanya akan habis jika tidak dapat mengendalikan diri. Apalagi jika sudah gila judi, keharmoinisan rumah tangga juga akan menjadi taruhannya. 

Seperti pada kasus yang terjadi di Jakarta Barat pada 2011 silam, seorang istri memiliki hobi berjudi. Latar belakang keadaan ekonominya tergolong keluarga kaya dengan hidup yang mewah hasil kerja suaminya. Dia sampai dijuluki ratu judi yang berani menjual aset kekayaan suami hingga ludes tak tersisa. Pada akhirnya dia harus mendekam di penjara dan diceraikan oleh sang suami. Harta habis, masuk penjajar, dan rumah tangga hancur.

Penyebab perceraian tertinggi selain adanya tindak kekerasan dalam rumah tangga ialah karena memiliki pasangan yang gila judi. Seseorang dengan tingkat candu akut pada permainan taruhan uang ini akan memiliki sifat yang keras, kasar, pemaksa, dan penipu. Uang dan harta habis maka jalan yang ditempuh ialah meminjam. Setelah dapat dia akan kembali ke meja judi lagi.

Mirisnya uang itu dipinjam dari kerabat sendiri, teman dekat, dan nekat pinjam ke rentenir yang terkenal bunganya bisa mencekik peminjamnya. Jika tidak ada lagi tempat meminjam jalan lain yang ditempuh ialah menipu. Tidak ada habisnya untuk melanggar larangan judi online. Layaknya jeratan iblis, penjudi tidak akan berhenti sebelum mengalami hidup yang hancur lebur tidak tersisa dan tersisih dari keluarga.