Pengaruh Larangan Judi Online Terhadap Keharmonisan Rumah Tangga

Pengaruh Larangan Judi Online Terhadap Keharmonisan Rumah Tangga – Seseorang yang berjudi bisa saja awalnya hanya ikut-ikutan dan berdasarkan coba-coba. Siapa sangka ini justru menjadi langkah awal yang membawanya untuk terjerumus lebih jauh ke dalam lingkaran terlarang itu. Seperti pada hasil penelitain Mark Griffiths – Psikolog Nottingham Trent University – pada Prilaku Kecanduan Judi, penjudi memiliki banyak motivasi atas kebiasaan berjudi.

Griffiths melalukan survey terhadap 5.500 penjudi dan dari penelitiannya itu ditemukan alasan yang mengejutkan kenapa penjudi tidak dapat berhenti dan ingin terus menaruhkan uangnya untuk mesin atau kartu judi, yaitu memuaskan hasrat kesenangan layaknya ‘membeli hiburan’. Alasan utama mereka bermain tentunya mendapatkan keuntungan dengan jumlah uang yang banyak.

Namun ‘kesenangan’ seperti ini tentunya memberikan pengaruh larangan judi online terhadap keharmonisan rumah tangga. Mungkin sudah bosan rasanya mendengar gaungan judi itu di larang. Negara dan agama selalu memberikan sosialisasi, tapi penjudi dominoqq meremehkan hal itu. Mereka hanya peduli unuk memuaskan hasrat terlarang. Berharap mendapatkan uang, padahal selalu kalah dan jika menang semakin ingin main lagi.

Mirisnya kalangan menengah ke bawah dengan ekonomi rendah atau pas-pasan banyak menjadi bagian dari penjudi. Mereka berharap lewat permainan yang menaruhkan sejumlah uang ini, perekonomian keluarga menjadi lebih baik. Tidak peru kerja terlalu keras, cukup melakukan taruhan untuk menjadi kaya. Harapan-harapan seperti inilah yang justru membuat keadaan keuangan semakin terpuruk parah hingga hilangnya keharmonisan di dalam rumah.

Larangan judi online juga nampaknya tidak berpengaruh kepada mereka yang berkantong tebal dengan hobi berjudi. Mereka bahkan ada yang menjadi mafia judi yang dapat mempermainkan skor pada suatu pertandingan yang sering dijadikan taruhan. Dunia olah raga juga menjadi bagian dari pasar taruhan yang peminatnya banyak. Hasil dari pertandingan menjadi taruhan.

Padahal penjudi yang sudah masuk di tahap candu sudah sering kalah dan nyaris tidak pernah menang, mereka tahu ada permainan orang dalam yang melibatkan bandar, bahkan ada mafia yang turut andil melakukan kecurangan. Namanya saja sudah ‘candu’, penjudi tidak lagi peduli meski kalah dan ditipu. Ada rasa yang membawa mereka terus kembali. Motonya ‘tidak ada yang suka kekalahan’ dan ini menambahkan hasrat untuk terus bermain.

Ketika modal habis dan tekor dalam perjudian, mereka berubah menjadi sosok yang emosional dan pemaksa. Sasaran utama bagi pelaku penjudi yang telah berkeluarga ialah istri dan selanjutnya anak mereka sendiri. Larangan judi online membuat mereka semakin menjadi untuk lebih brutal. Tabungan, cincin pernikahan, BPKB kendaraan, bahkan sertifikat rumah akan habis tergadai.

Parahnya mereka sanggup menggadaikan anak untuk melancarkan perjudian. Ini pernah terjadi di Pontianak, Kalimantan Barat. Tahun 2018 silam sepasang suami istri diamankan polisi akibat menggadaikan anak mereka yang masih berusia 4 bulan kepada bandar judi, karena tidak dapat memulangkan uang modal judi sebesar 1.4 juta rupiah. Lagi-lagi motif tersangka ialah masalah perekonomian dan terlilit utang.

Fakta ini sebenarnya kuat untuk dijadikan alasan kenapa adanya larangan judi.online Perekonomian yang buruk akan semakin terpuruk karena taruhan dan mengakibatkan hidup semakin terlilit utang. Tabungan habis, tempat tinggal disita, anak tergadai, dan mendekam dipenjara. Padahal negara kita ini negara hukum, memiliki aturan tertulis yang sudah sangat jelas dan cukup membuat ‘ngeri’.

Penjudi memang tidak ada takutnya. Dipikarannya hanya ada taruhan, berharap menang, ternyata kalah, lalu taruhan lagi, begitu seterusnya membentuk lingkaran setan. Negara sudah memiliki aturan tertulis pada KUHP tentang perjudian. Orang yang terlibat langsung, yang mengajak, dan yang menyediakan perjudian akan terjerat hukum dan minimal kurungan penjara 10 tahun, serta denda 25 juta rupiah.

Bagi penjudi yang berkantong tebal juga jangan sampai jumawa dan tidak peduli akan larangan judi online. Uang dan kekuasaan memang dapat mengatur segala hal, tapi sifatnya tidak kekal. Semuanya akan habis jika tidak dapat mengendalikan diri. Apalagi jika sudah gila judi, keharmoinisan rumah tangga juga akan menjadi taruhannya. 

Seperti pada kasus yang terjadi di Jakarta Barat pada 2011 silam, seorang istri memiliki hobi berjudi. Latar belakang keadaan ekonominya tergolong keluarga kaya dengan hidup yang mewah hasil kerja suaminya. Dia sampai dijuluki ratu judi yang berani menjual aset kekayaan suami hingga ludes tak tersisa. Pada akhirnya dia harus mendekam di penjara dan diceraikan oleh sang suami. Harta habis, masuk penjajar, dan rumah tangga hancur.

Penyebab perceraian tertinggi selain adanya tindak kekerasan dalam rumah tangga ialah karena memiliki pasangan yang gila judi. Seseorang dengan tingkat candu akut pada permainan taruhan uang ini akan memiliki sifat yang keras, kasar, pemaksa, dan penipu. Uang dan harta habis maka jalan yang ditempuh ialah meminjam. Setelah dapat dia akan kembali ke meja judi lagi.

Mirisnya uang itu dipinjam dari kerabat sendiri, teman dekat, dan nekat pinjam ke rentenir yang terkenal bunganya bisa mencekik peminjamnya. Jika tidak ada lagi tempat meminjam jalan lain yang ditempuh ialah menipu. Tidak ada habisnya untuk melanggar larangan judi online. Layaknya jeratan iblis, penjudi tidak akan berhenti sebelum mengalami hidup yang hancur lebur tidak tersisa dan tersisih dari keluarga. 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *